Dia 1 + Dia 2 = Dia 3

Aku membuka mata pagi ini dengan malas. Sambil mengucek mata, terbayang kegiatan hari ini yang pasti akan membosankan. Berangkat dari dorm menuju ke halte menunggu bus jemputan kantor datang, duduk manis di meja kerja menanti pekerjaan datang, itu pun jika ada. Jika tidak ada, seharian aku hanya akan menatap layar komputer dan membuka beberapa web secara acak. Sama seperti kemarin, hari ini aku masuk kantor hanya untuk menanti jam pulang kantor pukul 5 sore nanti.

Melangkah menuju kamar mandi serasa menempuh perjalanan jauh  menuju kutub selatan. Memang musim dingin seperti ini kamar mandi menjadi tempat yang mengerikan karena dinginnya yang menusuk. Namun demi penampilan, aku terpaksa memasukinya. Buang air kecil, mencuci muka dan menggosok gigi. Hanya itulah rutinitasku pagi itu. Tak buang-buang waktu, segera aku pakai jaket musim dingin satu-satunya yang kumiliki dan berangkat menuju halte. Inilah enaknya musim dingin, tidak perlu berganti baju setiap hari karena toh nantinya setiap saat akan tertutup dengan jaket.

Di halte, belum kulihat pekerja lain datang. Seperti biasa, aku selalu menjadi orang yang paling awal sampai sana. Pekerja-pekerja itu akan sampai kira-kira 5 menit sebelum bus datang. Aku sendiri tidak pernah bisa datang dengan waktu mepet seperti itu. Entah kenapa dalam hal apapun aku selalu ingin datang lebih awal untuk memastikan aku tidak terlambat. Itu juga yang sering dikatakan ayahku, lebih baik menunggu daripada terlambat. Tak lama, secara berturut-turut 2 orang pekerja wanita dan seorang pekerja pria data, disusul datangnya bus perusahaan. Kami naik ke bus dan duduk selama perjalanan menuju kantor.

Benar saja perkiraanku, hari ini pun kantor merupakan tempat yang membosankan. Sudah sejak awal aku mengira bahwa aku memang tidak cocok kerja kantoran. Aku lebih memilih duduk manis di kamar, membuat sebuah lagu baru, menulis puisi, atau menulis essai dan cerita-cerita. Aku tahu mungkin hal-hal tersebut lebih cocok dijadikan hobi karena aku tidak akan mendapatkan hasil yang cukup jika menggantungkan hidup dari hal-hal tersebut. Bisa dikatakan kerja di perusahaan sepatu ini merupaan suatu tuntutan keadaan, bukan keinginanku sendiri. 

Namun ada satu hal yang mengubah hari itu, sebuah email dari temanku di Seoul yang mengatakan bahwa aku harus berangkat ke Seoul hari Minggu nanti. Seketika itu juga sisa hari itu menjadi lebih ceria dibandingkan sebelumnya. Pergi ke Seoul, artinya aku akan bertemu dengan kak Anes, salah seorang anggota alumni kampusku di Indonesia dulu. 

Sebenarnya aku baru bertemu dengan dia sekali saat ada acara di Seoul bulan lalu. Banyak orang bilang cinta pada pandangan pertama itu tidak ada, aku pun tidak percaya akan hal itu, setidaknya sebelum bertemu dengan kak Anes. Namun sejak bertemu dia, ada sesuatu yang bergetar di dada dan menggelegak di darahku setiap aku melihatnya saat itu. Aku yakin istilah itu hanya omong kosong digunakan orang-orang yang tidak pernah merasakannya secara langsung. Aku merasakannya, aku merasakan cinta pada pandangan pertama.

Sebenarnya ini bukan benar-benar merupakan cinta pada pandangan pertama. Kak Anes entah mengapa merupakan perpaduan antara Ayas dan Aini, dua orang yang dulu pernah sangat dekat denganku. Ayas tinggal adalah teman sekelasku saat SMA. Kami dekat justru saat aku berkuliah di Bandung dan dia di Solo. Pada saat itu, momen pulang ke Solo adalah momen yang paling aku nantikan. Selain bisa bertemu keluarga aku juga bisa main ke tempat Ayas. Aini sendiri adalah mantan pacarku saat berkuliah di Bandung. Kami berpacaran setahun lebih sampai akhirnya kami berpisah karena ada suatu masalah yang tidak dapat kami selesaikan sampai saat ini. 

Dan entah kenapa Tuhan mempertemukanku dengan kak Anes, seorang wanita dengan penampilan luar persis seperti Aini. Kerudung kain yang dikenakannya sedikit banyak mengingatkanku pada Aini, begitu pun fisiknya, termasuk tinggi badannya yang kira-kira setelingaku dan wajahnya yang sedikit lonjing. Lain halnya ketika dia berbicara. Kak Anes benar-benar persis Ayas, mulai cerewetnya sampai nada bicaranya benar-benar Ayas. Saat pertama melihatnya, seketika itu juga lagu Padi yang berjudul ‘Seperti Kekasihku’ langsung terngiang di telingaku. 

02/22/12 at 12:59pm
2 notes
  1. rousyan reblogged this from jonimaulana
  2. jonimaulana posted this